Review Film Harry Potter

“Harry Potter” adalah seri film fantasi yang sangat populer yang diadaptasi dari novel-novel karya J.K. Rowling. Berikut adalah review umum mengenai seri film Harry Potter:

  1. Cerita: Cerita Harry Potter mengikuti perjalanan seorang anak yatim piatu bernama Harry Potter yang mengetahui bahwa dia seorang penyihir dan memiliki takdir untuk melawan penyihir jahat bernama Lord Voldemort. Cerita ini menggabungkan unsur-unsur sihir, petualangan, pertemanan, dan pertempuran antara kebaikan dan kejahatan.
  2. Pemeran: Pemeran-pemeran utama dalam seri ini, seperti Daniel Radcliffe (Harry Potter), Emma Watson (Hermione Granger), dan Rupert Grint (Ron Weasley), mendapat pujian atas penampilan mereka yang mengesankan dan kemampuan akting yang berkembang seiring berjalannya seri.
  3. Efek Visual: Efek visual dalam film Harry Potter sangatlah mengesankan, terutama dalam menggambarkan sihir, makhluk-makhluk fantasi, dan lokasi-lokasi magis seperti Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry.
  4. Atmosfir: Sutradara dan tim produksi berhasil menciptakan atmosfir yang kaya dan mendalam dalam dunia sihir Harry Potter, mulai dari Hogwarts yang megah hingga tempat-tempat yang gelap dan mencekam di dunia penyihir.
  5. Adaptasi dari Novel: Meskipun beberapa penggemar setia mungkin menemukan bahwa beberapa aspek dari novel tidak sepenuhnya diadaptasi dengan sempurna dalam film, secara keseluruhan seri ini dianggap sebagai salah satu adaptasi yang cukup setia terhadap materi sumbernya.
  6. Progresi Cerita: Seiring berjalannya seri, cerita Harry Potter menjadi semakin gelap dan kompleks, menangani tema-tema seperti persahabatan, pengorbanan, cinta, dan pilihan moral. Beberapa film terakhir pagcor slot dalam seri, terutama “Harry Potter and the Deathly Hallows”, sering dianggap sebagai puncak yang memuaskan dari perjalanan yang epik ini.

Secara keseluruhan, seri film Harry Potter telah mendapatkan banyak pujian dari penggemar dan kritikus, menjadi salah satu franchise film paling sukses dan ikonik sepanjang masa. Film-filmnya tidak hanya menarik bagi penggemar novel aslinya, tetapi juga telah menginspirasi dan menghibur jutaan penonton di seluruh dunia.

Review Avatar: The Way of Water, Menyelami Keindahan Bawah Laut Pandora

Film Avatar: The Way of Water atau Avatar 2 yang sudah dinantikan selama 13 th. kelanjutannya dirilis.

Avatar: The Way of Water jadi film sekuel yang memiliki jarak perilisan terlama dari film pertamanya.

James Cameron selaku sutradara tentu memiliki alasan tersendiri mengapa sistem pembuatan film Avatar: The Way of Water memakan pas selama 13 tahun.

Namun penantian panjang itu judi bola terpercaya terbayar tuntas dengan hasil yang menakjubkan!

Avatar: The Way of Water jadi satu film terindah yang tawarkan visual ciamik hasil pengembangan teknologi dan imajinasi James Cameron.

Sejak detik awal penayangannya, penonton dapat dibikin terpukau dengan visual megah dan warna yang indah dari dunia Pandora.

Avatar: The Way of Water langsung mempunyai penonton pada narasi kehidupan terkini Jake Sully (Sam Worthington) dan Neytiri (Zoe Saldana).

Kehidupan keduanya tambah merasa lengkap dengan kehadiran empat orang anak, yaitu Neteyam, Lo’ak, Kiri, dan Tuk.

Kehadiran empat anak ini jadi fondasi utama jalan cerita Avatar: The Way of Water.

Kehadiran anak jadi sebuah kekuatan sekaligus kelemahan bagi Jake dan Sully.

Kehidupan baik-baik saja mereka sekejap berubah pas Bangsa Langit kembali datang ke Pandora.

Quaritch (Stephen Lang) kembali dengan bentuk Avatar untuk membalaskan dendam kepada Jake.

Baca juga:

Rekomendasi Film Horor China Terseram, Cocok Untuk Uji Nyali!

Film Komedi India Terbaik yang Menghibur dan Sarat Makna

Ia membentuk sebuah tim Avatar supaya mampu berperang dengan suku Na’Vi Jake dan Neytiri.

Jake dan Neytiri kelanjutannya meninggalkan sukunya dan pergi ke pesisir laut Pandora di mana suku Metkayina hidup damai di bawah kepemimpinan Tonowari (Cliff Curtis) dan Ronal (Kate Winslet).

Jake dengan keluarganya lantas wajib hidup dan beradaptasi dengan lingkungan baru yang amat berbeda dari kehidupan sebelumnya.

Namun di pas bersamaan, Quaritch dan pasukannya tetap memburu keberadaan Jake.

Secara cerita, Avatar: The Way of Water merasa lebih mudah dikarenakan mengusung tema keluarga. Kehadiran anak tentu saja dapat membuat perubahan cii-ciri Jake dan Neytiri dari film pertamanya.

Sebagai orangtua, Jake dan Neytiri kini wajib lebih bijaksana di dalam menyita keputusan.

Kehadiran karakter-karakter baru amat beri kesegaran cerita di dalam dunia Avatar.

Neteyam si anak sulung dikisahkan wajib memikul tanggung jawab sebagai kakak yang melindungi adik-adiknya.

Lo’ak tertantang untuk tunjukkan dirinya petarung hebat dan lepas dari bayang-bayang Neteyam.

Kiri bergulat dengan masalah keyakinan diri dikarenakan senantiasa merasa berbeda dari anak-anak lainnya.

Sementara Tuk datang mempunyai keceriaan sebagai anak bungsu yang menggemaskan.

Meski jalan ceritanya tak amat memukau, Avatar: The Way of Water memiliki gambaran visual yang menakjubkan.

James Cameron tunjukkan bahwa pas 13 th. yang dihabiskannya untuk meningkatkan mutu gambar Avatar tak dulu sia-sia.

Apalagi kali ini ia kembali bermain dengan elemen air yang senantiasa jadi keistimewaannya.

Penonton dapat diajak menyelami keindahan bawah laut Pandora yang luar biasa.

Detail-detail kecil dari terumbu karang, biota laut, hingga gelembung-gelembung air di film ini amat tanpa cela.

James Cameron perhatikan semua elemen air di dalam film ini dengan amat cermat.

Suguhan visual di dalam film Avatar: The Way of Water dapat membekas di dalam ingatan para penontonnya.

Pada kelanjutannya durasi 3 jam 12 menit jadi angka biasa dikarenakan mata penonton dimanjakan dengan visual magis dari Avatar: The Way of Water.

Percayalah dapat satu hal, James Cameron, sinema, teknologi dan air tak dapat dulu gagal. Selamat memirsa Avatar: The Way of Water!

Review Film Titanic Yang Iconic


“Titanic” adalah film epik yang dirilis pada tahun 1997, disutradarai oleh James Cameron. Film ini dianggap sebagai salah satu film terbesar dalam sejarah perfilman, dengan memenangkan sejumlah penghargaan termasuk 11 Academy Awards. Berikut adalah beberapa review tentang film “Titanic” yang menjadikannya ikonik:

  1. Cinematografi yang Memukau: Salah satu poin terkuat dari “Titanic” adalah sinematografinya yang luar biasa. James Cameron berhasil menciptakan adegan-adegan yang spektakuler dan megah, terutama slot garansi kekalahan 100 bebas ip adegan pelayaran kapal Titanic di tengah lautan yang luas. Penggambaran kapal tersebut serta penggambaran kembali tenggelamnya kapal sungguh mengesankan dan menjadi salah satu titik penjualan utama dari film ini.
  2. Kisah Cinta yang Mendalam: Cerita cinta antara Jack Dawson (diperankan oleh Leonardo DiCaprio) dan Rose DeWitt Bukater (diperankan oleh Kate Winslet) menjadi fokus utama film ini. Meskipun berasal dari latar belakang sosial yang berbeda, keduanya menemukan cinta yang mendalam satu sama lain di atas kapal Titanic. Kisah cinta mereka yang penuh gairah dan romantis berhasil menghipnotis penonton, membuat mereka terlibat secara emosional dalam perjalanan tragis kapal tersebut.
  3. Performa Aktor yang Mengesankan: Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet memberikan penampilan yang luar biasa dalam film ini. Chemistry mereka yang kuat dan akting yang meyakinkan membuat kisah cinta antara Jack dan Rose terasa nyata dan mengharukan. Kedua aktor tersebut berhasil membawa karakter-karakter mereka ke dalam kehidupan dengan penuh emosi dan intensitas.
  4. Skor Musik yang Mendebarkan: Skor musik klasik karya James Horner untuk “Titanic” menjadi salah satu yang paling diingat dan ikonik dalam sejarah perfilman. Lagu tema “My Heart Will Go On” yang dinyanyikan oleh Celine Dion juga menjadi salah satu lagu film terlaris sepanjang masa. Musik yang memukau ini berhasil memperkuat emosi penonton dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pengalaman menonton film ini.
  5. Reproduksi Set yang Realistis: Untuk menciptakan replika kapal Titanic yang akurat, tim produksi “Titanic” melakukan riset yang sangat detail dan membangun set yang luar biasa. Set setiap kabin, ruang makan, dan area kapal lainnya direplikasi dengan sangat rinci, menciptakan atmosfer yang mendalam dan menghidupkan kembali suasana kapal mewah tersebut.

Secara keseluruhan, “Titanic” adalah sebuah karya seni yang epik dalam segala hal, dari cerita yang memukau hingga penggambaran visual yang memukau. Film ini tidak hanya menjadi salah satu film terlaris sepanjang masa, tetapi juga menjadi ikon dalam sejarah perfilman Hollywood.

Review Drama: Crash Landing on You

Setelah lebih berasal dari dua bulan tayang dan berhasil mengaduk-aduk emosi penonton, kata “indah” menjadi penggambaran yang pas atas drama Korea Crash Landing on You, menjadi berasal dari awal dimulai sampai kisah ini berakhir terhadap Minggu (16/2).

Ada banyak alasan mengapa kisah drama yang hit di Korea Selatan dan Indonesia ini patut disebut indah, menjadi berasal dari cerita yang matang digarap, ikatan emosi antar tokoh dan pembawaan yang kuat, sinematografi yang apik, sampai lagu pengiring yang menguatkan emosi di tiap peristiwa dramanya.

Serangkaian perihal itu menjadi alasan mengapa banyak pengagum drama ini begitu menantikan dua episode paling baru yang tayang tiap akhir pekan, baik di saluran televisi tvN atau pun di Netflix serta kami akan membahas tentang permainan dari situs slot depo dana.

Crash Landing on You menceritakan kisah cinta Yoon Se-ri (Son Ye-jin), seorang pebisnis dan anak konglomerat Korea Selatan, bersama Kapten Ri Jeong-hyeok (Hyun Bin) yang merupakan prajurit sekaligus anak petinggi militer Korea Utara.

Kisah cinta keduanya bukan cuma terhambat asal negara yang tidak sama ideologi, tetapi tersedia banyak perihal yang sebabkan cinta mereka nyaris tidak mungkin bersatu.

Penggodokan cerita yang matang sebabkan Crash Landing on You sanggup sebabkan penonton bertahan menanti episode paling baru untuk disaksikan.

Sutradara Lee Jung-hyo dan penulis Park Ji-eun mengajak penonton menyaksikan pertemuan awal Se-ri dan Kapten Ri yang epik, yakni disaat Se-ri tersangkut di pohon di kawasan militer Korea Utara akibat badai saat paralayang.

Namun kisah itu sebenarnya cuma puncak gunung es. Bak suratan takdir, kisah Crash Landing on You mengurai secara perlahan tali-tali keterikatan ke-2 pembawaan tersebut sebelum Se-ri ‘mendarat’ di pelukan Kapten Ri berasal dari atas pohon.

Cara sutradara Lee dan penulis Park untuk mengurai ‘takdir’ Se-ri dan Kapten Ri itulah yang sebabkan penonton mencegah rasa penasaran tiap pekan jelang episode paling baru tayang.

Dalam 16 episode, emosi penonton dibuat ambyar oleh Crash Landing on You. Banyak permasalahan yang perlu dihadapi Se-ri dan Kapten Ri selain berasal dari keduanya berasal berasal dari negara yang berbeda.

Mereka perlu hadapi drama konflik keluarga kaya khas sinetron yang rumit berupa perebutan posisi dan kekuasaan sampai mendorong niat menyingkirkan anggota keluarga sendiri.

Belum lagi misteri pembunuhan di era lantas yang mempengaruhi jalinan Se-ri dan Kapten Ri sampai episode akhir. Misteri ini kemudian terjalin bersama ragam permainan politik tingkat tinggi, baik di Korea Utara dan Korea Selatan.

Kendati demikian, sutradara dan penulis senantiasa memadukan permasalahan kompleks tersebut bersama banyak humor segar di tiap episode lewat jalinan pemain pendukung yang patut diacungi jempol.

Kombinasi cerita itu sebabkan sensasi menyaksikan Crash Landing on You bak naik wahana roller coaster. Tak jarang penonton tertawa terbahak-bahak menyaksikan humor berasal dari pemeran pendukung usai kuras air mata dan emosi atas drama cinta Se-ri dan Kapten Ri.

Para pemain pendukung seperti geng ibu desa militer Korea Utara dan para anak buah Kapten Ri menjadi sejumlah faktor penyegar dan penyemangat menantikan Crash Landing on You.

Jang Hye-jin dan Park Myoung-hoon yang sebelumnya tampil di dalam Parasite juga menampilkan akting yang segar di dalam drama ini. Jang Hye-jin berperan sebagai ibu berasal dari Seo-dan, dan Park Myoung-hoon menjadi paman berasal dari Seo-dan.

Keberadaan para pemain pendukung yang baik dan bersama porsi yang pas sebabkan nilai lebih sendiri bagi Crash Landing on You. Kisah second lead yang dimainkan oleh Seo Ji-hye sebagai Seo-dan dan Kim Jung-hyun sebagai Gu Seung-joon juga menjadi pemikat drama ini.

Beberapa artis ternama seperti Kim Soo-hyun (Secretly Greatly) dan juga Choi Ji-woo (Stairway to Heaven) tampil sebagai kameo dan memberi tambahan bumbu humor di dalam Crash Landing On You.

Selain cerita yang kuat dan akting para pemain yang baik, Crash Landing On You juga punya visual yang terlampau indah. Visual ini bukan cuma berasal dari pemandangan latar lokasi di Swiss, Mongolia, dan Korea yang memanjakan mata, tetapi juga model sinematografi di dalam membungkus aksi laga Kapten Ri yang konsisten sampai akhir.

Keindahan itu disempurnakan bersama alunan lagu pengiring yang pas berasal dari musisi kawakan di dunia drama Korea, seperti 10cm, Yoon Mi-rae, Crush, sampai IU, yang sebabkan emosi jadi ambyar saat menyaksikan Crash Landing On You.

Meski indah, Crash Landing on You tetaplah sebuah drama fiksi. Hal ini muncul berasal dari sejumlah adegan di sebagian episode yang nyata merupakan fantasi dan sulit berjalan di dunia riil.

Tapi imaji berasal dari drama ini nyatanya senantiasa sebabkan penonton setia menanti episode terbaru. Hal itu yang kemudian sebabkan rating Crash Landing on You memuncak di tiap episodenya.

Hingga terhadap episode terakhir, Crash Landing On You berhasil lewat capaian drama Korea Goblin yang menjadi drama bersama rating tertinggi di saluran televisi tvN.

Salah satu perihal yang patut diacungi jempol adalah langkah sutradara Lee Jung-hyo dan penulis Park Ji-eun membungkus Crash Landing On You bersama baik, indah, dan tuntas di episode 16.

Review Film 13 Bom di Jakarta, Standar Tinggi Film Aksi di Indonesia

Rumah memproduksi Visinema Pictures menutup th. 2023 bersama “ledakan” besar.

Ledakan itu datang dari film paling baru karya Angga Dwimas Sasongko berjudul 13 Bom di Jakarta.

Mengusung genre aksi-spionase, 13 Bom di Jakarta tawarkan suguhan berlainan yang selama 2023 didominasi oleh horor, selain itu kami juga membahas tentang permainan di situs link slot server thailand.

Cerita

13 Bom di Jakarta bercerita perihal ancaman teror bom dari Arok (Rio Dewanto) di seantero Jakarta.

Arok mengancam akan meledakkan bom setiap 8 jam sekali demi meraih keinginannya.

Badan Kontra Terorisme Indonesia (ICTA) bergegas mencari Arok untuk menstabilkan keamanan negeri.

Namun, hasil penelusuran mereka justru mengarah pada Oscar (Chicco Kurniawan) dan William (Ardhito Pramono), dua orang pebisnis muda sekaligus pendiri Indodax.

Misi tim Badan Kontra Terorisme Indonesia menjadi semakin pelik saat tersedia penyusup di dalam memuluskan kemauan Arok.

Sejak awal cerita dimulai, Angga Dwimas Sasongko udah beri tambahan pengakuan tegas perihal layaknya apa film 13 Bom di Jakarta akan bergulir.

Angga segera menghadirkan adegan ledakan mobil truk pengangkut duwit bersama basoka.

Adegan tersebut disita secara langsung, tanpa memanfaatkan efek visual, agar beri tambahan pengalaman sinematik yang liar.

Penonton selanjutnya diajak berteman bersama setiap pembawaan hingga konflik pun terasa disisipkan secara perlahan.

Munculnya pembawaan Oscar dan William, yang ternyata sebenarnya founder dari Indodax, mengakibatkan film ini terasa layaknya sebuah biografi yang ditempel bersama aksi teror bom.

Penempatan iklan terasa terlampau mengganggu dikarenakan terlampau beririsan bersama jalan cerita utamanya.

Padahal cerita yang dibawa lumayan segar dan jarang ditemukan di film-film Indonesia lainnya.

Aksi

Terlepas dari ceritanya yang terlampau ditempeli oleh produk iklan, aksi yang dijanjikan dalam film 13 Bom di Jakarta patut mendapat apresiasi.

Adegan tembak-tembakan, ledakan bom, kejar-kejaran mobil di jalanan, hingga pertempuran tanpa senjata hadir lengkap sebagai satu suguhan.

Semuanya dijalankan bersama terlampau matang, hampir tanpa cela.

Harapan Angga untuk memacu adrenalin pirsawan bersama ragam aksi di dalamnya terbilang sukses.

13 Bom di Jakarta mengambil keputusan standar yang lumayan tinggi untuk film-film aksi di Indonesia selanjutnya.

Setidaknya untuk urusan produksi, bersama skala yang terlampau besar, 13 Bom di Jakarta terbilang berhasil.

Karakter

Bicara soal karakter, 13 Bom di Jakarta memiliki ansambel pemain yang luar biasa.

Nama-nama besar hadir bersama tanggung jawab perannya masing-masing.

Baik protagonis maupun antagonis tampil sempurna bersama porsinya yang tak berlebihan.

Karakter-karakter perempuan dalam film ini lebih-lebih di luar dugaan mengambil perhatian.

Putri Ayudya, Lutesha, dan Niken Anjani mobilisasi tugasnya bersama baik.

Secara keseluruhan, 13 Bom di Jakarta beri tambahan warna berlainan dalam perfilman Indonesia.

Namun sama halnya layaknya makanan, film pun memiliki tujuan penontonnya sendiri.

13 Bom di Jakarta cuma akan memuaskan dahaga para pemburu film aksi yang udah lama terpinggirkan.

Namun untuk beberapa pirsawan lain, film ini akan terasa terlampau berat untuk diikuti dari awal hingga akhir.

Sinopsis No Time To Die, Kala James Bond Pensiun

Film No Time To Die akhirnya rilis sesudah kurang lebih ditunda selama satu 1/2 tahun. Berikut sinopsis No Time To Die yang dibintangi Daniel Craig dan Lea Seydoux yang terkenal kerap bermain di slot gacor.

James Bond (Daniel Craig) merintis kehidupan seperti manusia biasa sesudah memutuskan pensiun dari MI6. Ia tak lagi menjadi andalan atau menyandang standing agen spionase dengan kode 007.

Kini Bond sering menghabiskan selagi sehari-hari dengan kekasihnya, Madeleine Swann (Lea Seydoux). Mereka hidup bahagia, lebih-lebih kala berlibur ke kota Matera, Basilicata, Italia.

Liburan itu menjadi petaka kala Bond di serang Specter, organisasi yang ia lawan dalam sebagian tahun terakhir. Ia menduga Swan terlibat dalam serangan itu karena cuma dia yang tahu keberadaannya.

Tanpa pikir panjang Bond langsung mengakhiri hubungannya dengan Swan. Ia apalagi menunjukkan tidak idamkan bertemu lagi meski Swan berharap mampu bertemu lagi dengannya di sesudah itu hari.

Kehidupan Bond mendadak sepi. Ia sesudah itu rubah ke Jamaika dan selama lima tahun tidak menjalin interaksi dengan siapa pun karena sesungguhnya sesungguhnya masih mencintai Swan.

Seketika Bond dihampiri oleh Felix Leiter (Jeffery Wright), temannya sekaligus agen CIA. Ia berharap dukungan kepada Bond untuk menyelesaikan sebuah misi di Kuba yang mengenai dengan Spectre.

Sejak selagi itu ia lagi beraksi sebagai spionase. Misi itu membawa dampak Bond bingung karena ada sosok dan organisasi lain di balik Spectre yang berkuasa. Organisasi yang dipimpin Lyutsifer Safin (Rami Malek) itu apalagi mempunyai senjata biologi yang benar-benar mematikan.

Hal itu membuatnya lagi bertemu dengan Ernst Stavro Blofeld (Christoph Waltz), saudara angkat Bond sekaligus kepala organisasi Spectre. Namun, Bond tidak mendapat jawaban genah.

Mau tak senang Bond mesti menyelidiki organisasi misterius itu sendiri. Ia juga mesti siap dengan segala kemungkinan yang mampu membahayakan nyawanya.

No Time To Die merupakan film James Bond ke-25 sekaligus yang terakhir bagi Craig. Usianya udah tua supaya tak lagi sesuai dengan rencana si mata-mata yang ‘abadi’ di usia 33 tahun.

Produser Barbara Broccoli berharap sarana dan penggemar untuk berhenti berspekulasi tentang pemeran James Bond. Menurutnya aktor pengganti Craig baru akan diungkap sesudah No Time to Die dirilis.

Ia apalagi mengaku tidak buru-buru membayangkan pengganti aktor Daniel Craig hingga tahun 2022. Broccoli idamkan Craig nikmati selagi untuk selebrasi usai pensiun.

“Ya Tuhan tidak. Kami tidak memikirkannya mirip sekali. Kami idamkan Craig mempunyai selagi untuk selebrasi. Tahun depan kita akan jadi membayangkan masa depan,” kata Broccoli kepada BBC Radio yang dilansir Ace Showbiz, Selasa (28/9).

Ia mengaku menguntungkan mampu memperoleh Craig untuk memerankan agen spionase berkode 007 itu sejak film Casino Royale (2006). Kala itu Craig menukar Pierce Brosnan yang terakhir membintangi Die Another Day (2002).

Broccoli jadi penampilan Craig selama ini membawa dampak tim di balik layar benar-benar mampu mengeksplorasi kehidupan emosional Bond. Termasuk konflik dan kompleksitas dalam pembawaan Bond itu sendiri.

Belum Tayang, Film The Little Mermaid Disney Mendapat Banyak Kritikan!

Sejak pertama kali perilisan trailer dari film ‘The Little Mermaid’ di 10 September 2022 lalu,  Disney sudah mendapatkan banyak kritikan mengenai film satu ini. Hal ini karena banyak yang menilai sosok Ariel yang diperankan oleh Halle Bailey dirasa kurang menggambarkan Ariel yang selama ini ada di benak kita.

The Little Mermaid sendiri mengisahkan tentang putri duyung yang penasaran dengan dunia manusia. Sayangnya, hal yang dilakukannya ini ditentang oleh sang ayah karena dapat membahayakan joker123 slot dirinya dan duyung lain. Hingga suatu ketika, Ariel dibuat jatuh cinta pada seorang Pangeran bernama Eric. Ia pun memutuskan untuk mengubah ekornya menjadi kaki dengan bantuan Ursula si penyihir jahat.

Kisah ini diangkat menjadi Live Action oleh Disney dengan suasana bawah laut yang sangat terlihat nyata. Lalu di dalam teaser tersebut juga diperlihatkan Halle Bailey yang berenang dengan kostum putri duyung dan menyanyikan lagu ‘Part of Your World’ dengan suara indahnya.

Meski demikian, ini tidak membuat warganet berhenti memberikan ulasan pro dan kontra mengenai live action satu ini. Hal ini karena ada banyak yang dirasa kurang pas oleh warganet.

Mulai dari pemilihan artis hingga pemilihan pakaian yang dirasa kurang pas. Meski Halle Bailey memiliki suara yang merdu, tetapi sosoknya dirasa kurang bisa merepresentasikan sosok Ariel yang ceria, senang untuk bermain-main, dan memiliki rasa penasaran yang tinggi. Warna rambut dari sosok Ariel tersebut juga membuat warganet kecewa, karena warnanya yang tidak merah terang seperti apa yang ada di versi animasinya.

Warna kulit juga tidak lepas menjadi sorotan warganet, karena sebelumnya Ariel digambarkan sebagai duyung dengan kulit yang terang. Sedangkan Halle Bailey memiliki kulit yang gelap.

Pada film yang direncanakan tayang pada 26 Mei 2023 ini juga, banyak yang memberikan komentar mengenai pemilihan pakaian yang dilakukan Disney pada Halle Bailey. Pada Trailer yang dibagikan pada 13 Maret 2023 lalu, terlihat Ariel yang diperankan Halle Bailey menggunakan dress saat menjadi manusia. Pakaian itu dirasa kurang terlihat bagus, apalagi kalau dibandingkan dengan dress lain dari film live action Disney.

Jadi dengan semua pro dan kontra yang ada saat ini, apakah kamu akan tetap menyaksikan film ‘The Little Mermaid’?

Review Film Mencuri Raden Saleh, Film Genre Heist Terlaris di Indonesia

Apa yang terjadi jika enam anak muda Indonesia berkongsi unyuk fokus pada satu tujuan? Mereka bisa mencuri karya seni yang paling berharga di Indonesia. Yaitu lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya maestro Raden Saleh yang disimpan di Istana Presiden.

Itu adalah ringkasan paling sbobet singkat dari Mencuri Raden Saleh yang berdurasi lebih dari 2,5 jam. dengan masa putar yang begitu panjang, tantangan utama film ini adalah memaksa penonton tetap melek dan awas sepanjang pertunjukkan. Sebuah tantangan yang tak ringan.

Mencuri Raden Saleh memakai resep klasik untuk mengatasi soal ini dengan menyajikan plot twist demi plot twist yang tak berkesudahan.

Sebagaimana umumnya film dengan unsur kriminal sebagai pelaku utama sekaligus tokoh protagonisnya, film genre pemalsuan sekaligus pencurian berusaha menjawab satu pertanyaan pokok: bagaimana caranya supaya pelaku tidak ketahuan dan/atau tidak tertangkap aparat.

Dalam Mencuri Raden Saleh, pelukis yang masih mahasiswa, Piko Subiakto (Iqbaal Ramadhan) ditokohkan sebagai master forger kelas dunia: lukisan palsunya mulai dari karya lukis Widajat sampai Raden Saleh, tak bercela.

Teknik Piko oke, style dapat. Lukisannya bahkan menembus Galeri Seni dan Rumah lelang prestisius dengan harga mendekati miliaran. Seperti film Heist pada umumnya, Piko memiliki tim yang solid. Walaupun kadang ribut, tetapi mereka terdiri dari 5 ahli.

Ucup sang hacker (Angga Yunanda), Sarah si jago beladiri (Aghniny Haque), Gofar sang mekanik (Umay Shahab), Fella sang manajer (Rachel Amanda), dan Tuktuk sang driver (Ari Irham). Semuanya memiliki karakter dan latar belakang serta motivasi untuk terlibat dalam pencurian Penangkapan Pangeran Diponegoro.

Namun fokus berputar pada tokoh Piko. Ayahnya di penjara karena perampokan bank. Sang Ayah yang bernama Budiman (Dwi Sasono), mendekam dalam penjara dan kasusnya hanya bisa dikasasi ke MA kalau ada modal Rp2 miliar. Mencuri Raden Saleh adalah sebuah ikhtiar untuk mencari uang modal perkara itu.

Review Film Mencuri Raden Saleh

Sutradara Angga Dwimas Sasongko benar-benar bertaruh dengan kekuatan skenario dan jalan cerita, meski tentu saja para pemain tak bisa dipandang remeh. Sebagian memang sudah pernah menjadi bagian dari film Angga Sasongko sebelumnya. Sehingga sedikit banyak sudah saling paham karakter dan kualitas perannya.

Sementara pemain seperti Iqbal dan Umay, misalnya, adalah seleb dengan followers belasan juta orang. Popularitas sangat pemain boleh jadi bantu turut mengatrol sukses filmnya. Namun, mengumpulkan sekaligus 6 aktor dalam satu cast memiliki risiko menjadikan narasi film jadi sesak dan terlalu padat.

“Kenapa mereka? Karena keluar dari apa yang biasanya industri harapkan dari tipikal-tipikal anak-anak ini.” Kata Angga seperti ditampilkan dalam laman Instagram film tersebut, Mei lalu.

“Kenapa akhirnya menarik sekali melihat enam karakter ini, enam orang ini, enam aktor ini, jadi satu dalam sebuah frame dengan sebuah cerita di mana mereka ingin mencuri sesuatu yang besar, atau sesuatu yang penting ada di dalam Istana Presiden gitu.” Lanjutnya.

Pertaruhan Angga rupanya berhasil. Review dari film ini sangat positif, termasuk atau terutama dari kalangan sineas sendiri. Sutradara Joko Anwar yang baru saja panen besar dari Pengabdi Setan 2 dengan 6 juta penonton dalam 20 hari distribusi pertamanya, memberi resensi luar biasa dalam komentar melalui kanal Story di Instagram. Begitu pula dengan Reza Rahadian.