Makanan untuk Warga Gaza Membusuk sebab Perbatasan Rafah Ditutup

Persediaan bantuan makanan yang menunggu untuk masuk ke Gaza dari Mesir mulai membusuk sebab perbatasan Rafah telah ditutup selama tiga minggu. Kondisi ini membikin orang-orang di wilayah kantong Palestina menghadapi krisis kelaparan yang semakin parah.

Memberitakannya TRT World, Selasa (28/5/2024), Rafah merupakan spot masuk utama bantuan kemanusiaan, serta sebagian pasokan komersial sebelum Israel meningkatkan serangan militer qris slot di perbatasan Gaza pada 6 Mei 2024. Pihaknya juga mengambil kendali kebijakan penyeberangan di sisi Palestina.

Para pejabat Mesir dan sejumlah sumber mengatakan, bantuan kemanusiaan tersendat dampak kegiatan militer. Mereka juga menyebut Israel perlu menyerahkan kembali perbatasan Rafah pada Palestina sebelum spot masuk dan keluar itu mulai beroperasi kembali.

Israel dan Amerika Serikat telah minta Mesir, yang juga cemas akan risiko pengungsi Palestina dari Gaza, supaya membiarkan perbatasan dibuka kembali. Sementara itu, simpanan bantuan di jalan antara persimpangan sisi Mesir dan kota al-Arish, sekitar 45 km barat Rafah dan spot kedatangan sumbangan bantuan internasional, telah menumpuk.

Salah satu sopir truk, Mahmoud Hussein, mengatakan bahwa barang-barang bantuan untuk warga Palestina yang dimuat ke kendaraannya selama sebulan lambat laun rusak di bawah cahaya matahari. Sebagian bahan makanan dibuang, sebagian lain dipasarkan dengan harga murah.

“Apel, pisang, ayam, dan keju, banyak yang busuk, ada yang dikembalikan dan dipasarkan seperempat harganya,” katanya sambil berjongkok di bawah truknya untuk berteduh. “Aku minta maaf sebab bawang yang kami bawa paling-paling akan dimakan hewan sebab ada cacing di dalamnya.”

Bantuan Kemanusiaan Stop Selama 3 Minggu

Pengiriman bantuan untuk Gaza melalui Rafah diawali pada akhir Oktober 2023, dua minggu sesudah diawalinya serangan militer Israel di wilayah kantong Palestina. Aliran bantuan tak jarang kali terhambat inspeksi Israel dan kegiatan militer di Gaza, sementara jumlahnya selalu jauh di bawah keperluan, kata para pejabat setempat.

Sejak 5 Mei 2024, tak ada truk yang melintasi Rafah dan amat sedikit yang melintasi perbatasan Kerem Shalom di dekat Israel, menurut data PBB. Jumlah bantuan yang menunggu di Sinai utara Mesir kini amat besar, dan sebagian di antaranya telah tertahan selama lebih dari dua bulan, kata Khaled Zayed, Kepala Bulan Sabit Merah Mesir di wilayah tersebut.

“Sebagian paket bantuan membutuhkan temperatur tertentu. Kami berkoordinasi mengenai hal ini dengan ahli yang amat terlatih dalam penyimpanan makanan dan pasokan medis,” katanya. “Kami ingin perbatasan akan dibuka kembali sesegera mungkin.”

Di Gaza, ada juga kekhawatiran mengenai kualitas pengiriman makanan yang tertunda sebelum Rafah ditutup, atau melalui penyeberangan lain. Petugas medis dan polisi yang umum memeriksa barang-barang yang masuk ke Gaza tak bisa melakukannya selama serangan Israel, kata Ismail al Thawabta, direktur kantor media pemerintah Palestina di Gaza.

error: Content is protected !!