Tikus di Paris dan Film Animasi Ratatouille

Tikus di Paris merupakan fakta dari kehidupan sehari-hari. Orang-orang di Paris telah terbiasa dengan absensi tikus, sehingga media lokal menulis candaan bahwa tikus merupakan komponen dari dekorasi Paris yang tidak menyenangkan.

Kemunculan tikus di kafe Paris telah menjadi pemandangan lazim. Jika ada pengunjung kafe yang komplain mengenai tikus, umumnya pelayan cuma meminta mereka untuk hening dan tidak perlu khawatir.

Faktanya, Paris merupakan kota keempat dengan populasi tikus terbanyak di dunia, setelah Deshnoke di India, London, dan New York. Populasi tikus di Paris menempuh enam juta, lebih banyak spaceman ketimbang jumlah populasi manusia yang menempuh 2,1 juta.

Majalah Le Point melaporkan, Paris dan tikusnya memiliki sejarah yang panjang. Selama berabad-abad, tikus telah hadir dalam kehidupan sehari-hari. Pada abad ke-19, hewan pengerat berkerumun di selokan, tiang penyangga, malahan di sarung tangan atau di panci masak.

Kohabitasi Paris dengan tikusnya bukanlah hal baru. Selama berabad-abad hewan pengerat telah menjadi sahabat tertua penduduk ibu kota, membangkitkan rasa jijik, histeria, legenda, dan fantasi pada dikala yang berbarengan,\\” ujar laporan Le Point.

Tikus merupakan penyebab utama penyebaran penyakit pes di abad ke-14 yang membunuh hampir separo populasi. Namun seiring berjalannya waktu, tikus dilatih untuk tampil dalam pertunjukan, balapan, dan pertengkaran.

Banyaknya populasi tikus di Paris kemungkinan telah menginspirasi pembuat film kartun Walt Disney untuk memproduksi Ratatouille. Film kartun Ratatouille bercerita tentang hewan pengerat bernama Rémy yang punya cita-cita menjadi koki Prancis. Ini telah menjadi film terlaris pada 2007 di Prancis. Film ini memasarkan karcis lebih dari 60 juta dolar AS dan menjadi nomor satu di box office Prancis selama enam minggu, menumbangkan rekor yang dijadikan oleh film Titanic.

Adegan kunci dari Ratatouille merupakan ayah Rémy memperlihatkan kepadanya sebuah toko pengontrolan hama dan memberitahunya bahwa manusia menjalankan hal-hal buruk kepada hewan pengerat. Diiringi musik latar yang menyeramkan dan sinar lampu jalan di malam yang berair, sang ayah menunjuk sejumlah tikus mati yang digantung dengan tali di jendela. Rak-rak toko memiliki perangkap dan kotak racun tikus yang menonjol seperti abad pertengahan.

The Seattle Times melaporkan, film kartun Ratatouille dan Rémy telah menjadikan toko perangkap tikus di kehidupan nyata di sentra kota Paris yang ditampilkan dalam film hal yang demikian, Aurouze, sebagai obyek tamasya. Dikala itu, seorang mahasiswa dari pinggiran Paris, Rabie Cheklat menjalankan perjalanan ke Kota Paris untuk mengunjungi toko Aurouze.

“Aku samar-samar ingat mengamati toko itu dikala masih kecil dan dikala aku menonton filmnya aku berkata, \\’Aku tahu tempat itu\\’. Aku ingin datang mengamati-lihat lagi,\\” ujar Cheklat.

Aurouze telah membunuh tikus selama 135 tahun. Kios itu menggantung 21 tikus mati di jendelanya. Kios pembasmi tikus ini telah ada semenjak 1925. Kios hal yang demikian kini di pegang oleh Cécile Aurouze bersama saudara laki-lalinya, Julien. Kios ini telah dirintis oleh kakek buyut Cécile pada 1872.

\\”Kami tidak akan pernah menurunkannya (gantungan tikus mati di jendela). Mereka merupakan lambang toko,\\” ujar Cécile.

Cécile mengatakan, kebanyakan tikus hari ini dibasmi dengan anti-koagulan yang menyebabkan mereka mati sebab pendarahan internal. Sementara perangkap tikus kuno lebih layak digunakan untuk rumahan, bukan serangan perkotaan besar.

Secara peraturan, setiap ruang bawah tanah di Paris sepatutnya ditaburi racun tikus. Cécile mengatakan, beberapa kafe dan toko makanan paling familiar di Paris merupakan pelanggan penting.

\\”Namun aku tidak akan menceritakan nama kafe yang jadi klien, sebab ini rahasia dan mungkin mereka bisa malu,\\” ujar Cécile.